Sunday, November 30, 2008

Sai Inspires 30th November 2008 (What are the important steps that will lead us in the glorious path of wisdom?)

All individuals have to reach the goal, travelling along the path of wisdom. This knowledge comes as soon as you look into yourselves and analyze your own experience. In order to get the craving for that analysis, you have to educate yourselves into that attitude. Developing good habits, avoiding bad habits, mixing in the company of the pious, being active in good deeds, serving those in distress - all these steps will lead you into the glorious path of Self-Knowledge. You must take to this discipline and save yourselves from grief and distress. I bless that you may get the will to do so and to persist in the spiritual practice, till success is won.

Setiap orang harus sampai ke tujuan akhir, yaitu dengan menapaki jalan kebijaksanaan. Pengetahuan atau kebijaksanaan itu akan muncul apabila engkau melihat ke dalam dirimu sendiri dan menganalisa pengalaman-pengalaman yang telah engkau lalui. Untuk memunculkan kemampuan analitis seperti itu, maka engkau harus mendidik dirimu sendiri dengan attitude yang selaras, antara lain dengan cara mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, menghindari kebiasaan jelek, bergaul dengan mereka yang saleh, aktif melakukan perbuatan bajik serta melayani mereka yang memerlukan uluran tangan – semua langkah-langkah tersebut akan menuntunmu menuju kepada pengetahuan diri (Self-Knowledge). Disiplin ini harus engkau laksanakan agar engkau terselamatkan dari penderitaan. Aku memberkatimu agar engkau memperoleh semangat untuk melakukannya serta tetap langgeng di dalam menjalankan praktek spiritualmu hingga tercapainya kemenangan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 5, Feb 20, 1965.

Saturday, November 29, 2008

Sai Inspires 29th November 2008 (one small act of vigilance which will positively carry us through the journey of life)

Be silent yourself. That will induce silence in others. Do not fall into the habit of shouting, talking long and loud. Reduce contacts to the minimum. Carry with you an atmosphere of quiet contemplation, wherever you happen to be. There are some who live in a perpetual hullabaloo, in a tornado of noise. Whether they are in an exhibition or a hotel or a temple, they tongues never stop. These will not proceed far on the road to reach God.

Be silent yourself (tidak perlu banyak bicara). Dengan demikian, engkau juga akan mendorong orang lain untuk berdiam-diri juga. Janganlah memiliki kebiasaan suka berteriak-teriak, berbicara panjang lebar dengan suara yang lantang. Kurangilah kontak hingga ke level yang sesedikit mungkin. Sebaliknya biasakan dirimu untuk setiap saat selalu memelihara atmosfir quiet contemplation. Ada sebagian orang yang sudah terbiasa hidup dalam suasana yang begitu hiruk-pikuk, bagaikan suara tornado (angin puting beliung). Baik ketika sedang berada di tengah-tengah suasana pameran atau di hotel ataupun di kuil, lidah mereka tidak pernah berhenti. Orang-orang seperti ini tidak akan melangkah jauh di jalan untuk menuju Tuhan.

- Sri Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30 1965.

Friday, November 28, 2008

Sai Inspires 28th November 2008 (How long do we have to keep on persisting with our spiritual Sadhana?)

A ladder has to be as tall as the height you want to reach. Your Sadhana has to be as long as the time taken to reach the goal. When the walls are completed, the scaffolding is removed. When the vision of the Reality is attained, the spiritual practices of Japa, Vratha, Puja, Archana (chanting, worship, etc.) can be dispensed with. You must be watching for every chance to dwell on the noble thoughts, do elevating tasks, and to curb the downward pull of the ego.
Ketinggian tangga yang engkau pergunakan haruslah disesuaikan dengan tinggi obyek yang hendak engkau gapai. Demikian pula halnya dengan sadhana; yang harus engkau lakukan sepanjang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuanmu. Ketika dinding yang sedang dibangun itu sudah selesai, maka tentunya susunan scaffolding-nya juga sudah boleh dibongkar. Nah, apabila vision of the Reality (pencerahan) sudah berhasil engkau capai, maka praktek-praktek spiritual seperti Japa, Vratha, Puja, Archana dll sudah boleh engkau tinggalkan. Namun sebelum itu tercapai, engkau harus senantiasa mencari waktu untuk mengarahkan mind (batinmu) terhadap pemikiran-pemikiran yang suci, luhur dan mulia, serta melakukan hal-hal yang semakin mendorong kemajuan batinmu serta sekaligus menahan hasutan-hasutan sang ego.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30, 1965.

Thursday, November 27, 2008

Sai Inspires 27th November 2008 (What are the obstacles in the path of realization? Why is it important to concentrate on a single purpose?)

Detach yourself from the senses. Then only the Atma (Soul) can shine. I do not mean that you should destroy the senses. The mind must be withdrawn from its present comrades, its senses and must be loyal to its real master, the intellect. Keep a lamp in a room with all its five windows open. The wind will blow it out, for the flame is swayed from all directions. To keep the flame burning straight, you have to close the windows. Similarly, the senses are the windows, the flame is the mind, and our concentration should be the single purpose of God realization.

Janganlah melekat terhadap panca inderamu, dengan begitu maka Atma (Soul/Jiwa) akan terealisasikan. Yang Ku-maksudkan disini bukanlah diartikan bahwa engkau harus menghancurkan panca inderamu. Melainkan engkau harus menjaga mind (batinmu) sedemikian rupa dari godaan-godaan panca indera dan pastikanlah bahwa ia betul-betul loyal terhadap 'tuan'nya yang sebenarnya, yaitu sang intellect (buddhi). Apabila engkau menyalakan pelita/lampu (dari lilin) di dalam sebuah ruangan yang memiliki jendela yang semuanya terbuka, maka api lilin itu kemungkinan besar akan padam karena tertiup angin dari segala penjuru. Agar lilin tersebut tetap menyala, maka engkau seharusnya menutup jendela-jendela itu. Panca indera kita dianalogikan sebagai jendela tersebut dan nyala api adalah mind kita. Konsentrasi utamamu haruslah sedemikian rupa demi untuk tercapainya realisasi Ke-Tuhan-an.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 3, Jan 29, 1965.

Wednesday, November 26, 2008

Sai Inspires 26th November 2008 (What is the result of all the spiritual practice?)

Water or fire as such, cannot move a train. They must both co-operate to produce a third thing, steam. The steam moves the engine forward. The curbing of the mind takes you to the winning post. Kerosene oil and air must both unite to form the gas which ignites in the petromax lamp to give light. Similarly Bhakthi or Jnaana or Karma (devotion or wisdom or action) must all lead to the achievement of equanimity. Otherwise, they are simply pseudo.

Air maupun api saja tidak akan bisa menggerakan kereta-api. Kedua-duanya harus saling bekerja-sama untuk menghasilkan unsur ketiga, yaitu uap (air). Nah, uap (air) inilah yang menjadi daya pengerak mesin kereta-api itu. Pengendalian mind (batin) akan mengantarkanmu menuju kemenangan. Minyak tanah dan udara haruslah bersatu guna membentuk gas yang menyalakan lampu petromaks. Demikian pula, Bhakthi atau Jnaana maupun Karma (devotion atau kebijaksanaan atau tindakan) harus menghasilkan pencapaian keseimbangan batin. Sebab jikalau tidak, maka semuanya itu hanyalah kepalsuan belaka.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 3, Jan 29 1965.

Tuesday, November 25, 2008

Sai Inspires 25th November 2008 (useful and practical tenets that we must follow everyday in our lives)

Purify the heart by being good and kind to all. Do not attempt to find fault with others. Look upon all with love, respect and faith in their sincerity. I would ask you to treat your servants kindly. Do not entertain hatred or contempt in your heart. Show your resentment if you must, through words, not action. Repent for the errors that you commit and decide never to repeat them. Pray for strength to carry out your resolutions.

Sucikan serta murnikan hatimu dengan cara berbuat kebajikan. Janganlah engkau mencoba-coba untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Perlakukanlah semuanya dengan cinta-kasih, penghormatan serta keyakinan atas ketulusan hati mereka. Aku meminta agar engkau memperlakukan pembantu/karyawanmu secara baik. Janganlah membenci ataupun menghina. Seandainyapun engkau merasa tidak puas, maka apabila dirasakan perlu, ungkapkanlah melalui tutur katamu dan jauhilah tindakan secara fisik. Sesalilah kesalahan yang pernah engkau perbuat dan bulatkanlah tekadmu untuk tidak mengulanginya lagi. Berdoalah untuk meminta kekuatan dalam menindak-lanjuti resolusi-resolusimu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30 1965.

Monday, November 24, 2008

Sai Inspires 24th November 2008 (How can we escape pain and grief and be filled with bliss?)

The consciousness "I am the body" must go, if the spirit "I am one with the Self" must emerge. So long as you are one with the Universal consciousness, no pain or grief or egoism can tarnish you. Take the sea water. Small quantity of the sea water enclosed in a small bottle will get foul in a few days. But, if it remains in the sea, nothing could foul it. Be in the sea, as part of it. Do not separate yourself. Do not feel that you are the body, separate from the Indweller.

Untuk mencapai realisasi bahwa dirimu adalah satu dengan Divine, maka sebelumnya kesadaran "I am the body" (identifikasi dengan badan jasmani) haruslah dilepaskan terlebih dahulu. Selama engkau berada di dalam kesadaran universal, maka tiada penderitaan maupun egoisme yang bisa menodaimu. Ambillah contoh air laut, apabila engkau menyimpannya di dalam sebuah botol yang tertutup; maka dalam beberapa hari saja, air itu akan menjadi bau. Tetapi apabila air itu dibiarkan bebas di samudera, maka tiada sesuatupun yang bisa mengakibatkannya menjadi bau. Oleh sebab itu, biarkanlah dirimu menjadi bagian dari samudera, janganlah engkau memisahkan dirimu. Janganlah engkau menganggap bahwa dirimu semata-mata hanyalah badan fisik belaka yang terpisah dari sang penghuninya (Atma).

- Sathya Sai Speaks, Vol 1, Ch 3, 29-Jan-1965.

Sunday, November 23, 2008

Sai Inspires 23rd November 2008 (What is the important offering we must offer to our dear Lord to win His blessing?)

Recognize the truth that Sai is in all. When you inflict pain on another, remember that the other is yourself in another form, with another name. Give up this vice; be happy when another is happy. That is more pleasing to the Lord than the prayers you recite or the flowers you heap on His picture or image. Be simple in your method of living, have saathwik (pure) food and moderate recreation. Let your mind be fixed on the ideals of service. Let your thoughts be guided by Sathya, Dharma, Shaanthi, Prema. That is the blessing I confer on you today.

Ketahuilah bahwa Sai ada di dalam diri semuanya. Apabila engkau menimbulkan rasa sakit terhadap orang lain, maka ingatlah bahwa yang disebut sebagai orang lain itu sebenarnya adalah dirimu sendiri dalam wujud dan nama yang lain. Jauhilah kejahatan; berbahagialah apabila engkau melihat orang lain berbahagia. Sikap dan tindakan seperti itu jauh lebih disukai oleh Tuhan daripada doa-doa yang engkau panjatkan maupun rangkaian bunga yang engkau gantung di foto maupun wujud-Nya yang lain. Jalanilah kehidupan yang sederhana, konsumsi makan yang saathwik dan rekreasi (hiburan) yang bersifat moderat. Pusatkan perhatianmu terhadap peluang untuk memberikan pelayanan. Biarkanlah pikiranmu dituntun oleh Sathya, Dharma, Shaanthi dan Prema. Inilah anugerah yang Ku-berikan kepadamu hari ini.

- Bhagavan's Birthday Discourse, November 23, 1965.

Saturday, November 22, 2008

Sai Inspires 22nd November 2008 (What can we do to get nearer and dearer to Him at the earliest?)

You should cultivate an attitude of inseparable attachment to the Lord, who is your very self. If He is a flower, you should feel yourself as a bee that sucks its honey. If He is a tree, you must be a creeper that clings to it. If He is a cliff, then feel that you are a cascade running over it. If He is the sky, be the tiny star that twinkles in it. Above all, be conscious of the truth that you and He are bound by the Supreme Love. If you feel this acutely with subtle intelligence, then the journey will be quick and the goal can be achieved.


Jati Dirimu yang sebenarnya adalah Divine, oleh sebab itu, milikilah attitude dimana engkau merasa tidak akan pernah bisa berpisah dari-Nya. Jikalau Beliau adalah kembang (bunga), maka engkau harus merasa bahwa dirimu menjadi lebah yang menyedot sari madu-Nya. Jikalau Ia adalah sebatang pohon, maka engkau adalah tanaman menjalar yang menumpang pada pohon itu. Jikalau Ia adalah batu karang, maka rasakanlah bahwa seolah-olah dirimu adalah air terjun yang mengalir di atasnya. Jikalau Beliau adalah langit/angkasa, maka engkau menjadi bintang kecil yang gemerlap menghiasi langit itu. Pendek kata, sadarilah kebenaran bahwa dirimu dan Tuhan terikat oleh jalinan cinta-kasih Mulia (Supreme Love). Jikalau engkau mampu menjiwai kebenaran ini dengan benar, maka perjalananmu (menuju ke tujuan hidup) akan menjadi lebih cepat.



Friday, November 21, 2008

Sai Inspires 21st November 2008 ( What is the constant vigil that we must be alert for to become one with Him?)

Know that you and I are one. You can realize this only by intense spiritual discipline, that is not marred by anger, envy and greed...the vices that sprout from the ego. When you get angry, you act as if you are possessed by an evil spirit. Your face becomes ugly and frightful. Heed that signal, and take yourself to a quiet spot. Do not give free vent to wicked vocabulary. Envy and greed also emanate from the ego and have to be carefully watched and controlled. Like the tadpole's tail, the ego will fall away when one grows in wisdom. Develop wisdom, discriminate and know the ephemeral nature of all objective things.

Ketahuilah bahwa dirimu dan Aku adalah satu adanya. Engkau akan mencapai kesadaran itu hanya setelah melalui serangkaian disiplin spiritual ketat yang tidak tercemar oleh unsur kemarahan, keiri-hatian dan keserakahan (sifat-sifat negatif yang bersumber dari sang ego). Ketika engkau sedang dalam kondisi penuh amarah, maka pada saat itu engkau akan terlihat seolah-olah sedang dirasuki oleh roh yang jahat. Wajahmu menjadi sangat jelek dan menakutkan. Pada saat unsur-unsur kemarahan mulai menjangkitimu, maka secepat mungkin sadarilah dan asingkanlah dirimu ke tempat yang sepi dan hindarilah penggunaan kosa-kata yang jelek. Demikian pula, engkau perlu memperhatikan serta mengendalikan unsur keiri-hatian dan keserakahan yang juga bersumber dari sang ego. Seperti halnya buntut seekor tadpole (binatang amfibi) yang akan copot menjelang usia dewasanya, maka demikian pula, sang ego akan sirna dengan sendirinya pada saat engkau semakin matang dalam kebijaksanaanmu. Oleh sebab itu, kembangkanlah terus kebijaksanaan, kemampuan diskriminatif agar dapat mengenali hal-hal yang bersifat sementara dalam obyek-obyek duniawi.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 1, Jan 14 1965.

Thursday, November 20, 2008

Sai Inspires 20th November 2008 ( Why should we perform actions without expecting the results?)

Perform action, but do not hanker after the fruit. Do not complain that you did not get public recognition for the good you did. Fruits, whether good or bad, you yourself have to consume. If you crave for the profit, you will have to be prepared to accept the loss also. The best means of liberating yourself from the consequences is to ignore the fruit and perform action, for the sake of action only. Then, you will not be burdened with either the merit of action or the sin from it.

Jalankanlah tugas & kewajibanmu, namun janganlah engkau mengharapkan imbalan atas jasa-jasa kebajikan yang engkau lakukan itu. Janganlah engkau mengeluh seandainya engkau tidak menerima penghargaan atas kebaikan yang telah engkau laksanakan. Buah hasil perbuatanmu - baik maupun buruk - engkau sendiri yang akan merasakannya nanti. Jikalau engkau selalu mengharapkan keuntungan, maka itu berarti engkau juga harus siap-siap untuk menerima kerugian pula. Cara yang terbaik untuk membebaskan dirimu dari konsekuensi (perbuatan) adalah dengan jalan tidak menghiraukan buah akibat yang akan timbul nanti dan terus melaksanakan tugas & kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, beban mentalmu akan jauh berkurang.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 1, Jan 1965.

Wednesday, November 19, 2008

Sai Inspires 19th November 2008 ( What is the importance of reforming oneself and working hard towards reaching our goal in this life?)

It is an uphill task to reform one's tendencies and character. You may have the best of the vegetables and the most capable cook, but if the copper vessel in which you prepare the vegetable soup is not tinned, the concoction you cook will be highly poisonous! So, "tin" your heart with Sathya, Dharma, Shanthi, Prema (Truth, Right Conduct, Peace and Divine Love), it will then become a vessel fit for repeating holy name and worshipping the Lord.

Untuk merubah atau mereformasi karakter dan kebiasaan seseorang memang dibutuhkan upaya yang cukup intensif. Walaupun engkau mempunyai sayuran yang paling berkualitas maupun tenaga pemasak yang paling hebat sekalipun, namun semuanya itu tak ada faedahnya jikalau wajan (tembaga) yang engkau gunakan untuk memasak belum dilapisi oleh 'tin' (plumbum candidum - Latin). Tanpa adanya lapisan ini, maka bahan makanan yang engkau masak dalam wajan itu akan menjadi racun! Melalui analogi ini, artinya engkau harus 'tin' hatimu dengan menggunakan Sathya, Dharma, Shanthi, Prema (Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian dan cinta-kasih Ilahi). Dengan demikian, maka hatimu akan menjadi 'wajan' yang sangat cocok untuk pengulangan nama-nama suci serta ibadah terhadap-Nya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 1, Jan 1965.

Tuesday, November 18, 2008

Sai Inspires 18th November 2008 (What is the importance of repeating the Name of God as a spiritual discipline?)

Remembrance of the Lord's Name alone is enough to save each and everyone. You may doubt whether such a small word like Raama or Sai or Krishna can take you across the boundless sea of worldly life. People cross vast oceans on a tiny raft; they are able to walk through dark jungles with a tiny lamp in their hands. The Name, which is small, has vast potentialities. The raft need not be as big as the sea. The recitation of the Name is like the operation of boring to tap underground water. It is like the chisel-stroke that will release the image of God, imprisoned in the marble. Break the encasement and the Lord will manifest Himself.

Kekuatan nama Tuhan memiliki potensi untuk menyelamatkan umat manusia. Barangkali engkau masih meragukan keampuhan nama Raama atau Sai atau Krishna dalam mengantarkanmu menyeberangi samudera kehidupan ini. Dengan menggunakan sebuah perahu kecil, kita akan bisa mengarungi lautan luas, dengan berbekal sebuah lentera kecil, kita akan bisa menerobos rimba yang gelap. Nah, walaupun nama Tuhan terlihat sederhana; namun ia memiliki keampuhan yang luar biasa. Dalam mengarungi samudera, kita toh tidak membutuhkan perahu yang sebesar samudera itu bukan? Pengulangan nama-nama Tuhan adalah bagaikan upaya pengeboran guna mencari sumber air di bawah tanah. Ia bisa juga diumpamakan sebagai 'chisel-stroke' yang akan membelah batuan marbel yang selama ini menyimpan image Tuhan di dalamnya. Hancurkanlah lapisan (kekotoran batin) yang menyelimuti-Nya; sehingga dengan demikian, Tuhan akan memanifestasikan diri-Nya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 1, Jan 1965.

Monday, November 17, 2008

Sai Inspires 17th November 2008 ( What is Swami's guidance on the right appetite for our spiritual hunger?)

Hitha and Mitha (Pleasant and Moderate), these are the directions. Do not hanker after too garish, costly or fragile objects. Take the middle course, that will yield the maximum benefits. The craving for sense objects cannot be given up fully. So transform them into an instrument for worship. Dedicate all your efforts to the Lord. Accept all achievements and failures as proof of Grace of the Lord. His Will decreed that they should so happen - transform all the six passions into instruments for spiritual uplift..

Jauhilah obyek-obyek yang terlalu menyolok, mahal maupun yang tergolong rentan. Ambillah jalan tengah - Hitha dan Mitha (yang bersifat menyenangkan dan moderat) - yang akan memberikan manfaat maksimal. Kebutuhan panca indera tidak akan bisa kita tinggalkan semuanya. Yang bisa kita lakukan adalah mentransformasikannya menjadi instrumen untuk keperluan ibadah (worship). Dedikasikanlah seluruh upaya/usahamu kepada-Nya. Terimalah segala bentuk kesuksesan maupun kegagalan sebagai bukti Rahmat Ilahi-Nya. Kehendak Beliau pasti terlaksana - oleh sebab itu, transformasikanlah dorongan-dorongan batin untuk peningkatan derajat spiritualmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 26, Sep 15 1963.

Sunday, November 16, 2008

Sai Inspires 16th November 2008 (What is the foremost virtue we have to cultivate to feel His love and grace?)

God is the embodiment of love and the ocean of compassion. But you are unable to receive God's love and compasssion because you have filled your mind with worldly feelings. If you want to receive something sacred, give up all that is unsacred. If the head is empty, it can be filled with anything. But if the head is already stuffed with worldly desires, how is it possible to fill it with sacred feelings? First and foremost, empty your head of all worldly feelings. Only then can it be filled with divine love. For this, you have to cultivate Thyaga (sacrifice). That is true Yoga.



Tuhan adalah perwujudan cinta-kasih dan welas-asih. Ketidak-mampuanmu untuk menerima cinta-kasih dan welas-asih Ilahiah adalah disebabkan oleh karena batinmu telah sarat-penuh dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Jikalau engkau memang berniat untuk menerima sesuatu yang suci, maka terlebih dahulu engkau harus membuang hal-hal yang negatif. Apabila head (kepala/otak) telah kosong, maka ia bisa diisi dengan segala hal. Sebaliknya jikalau ia masih dijejali dengan keinginan duniawi, maka tidaklah mungkin bagi Tuhan untuk mengisinya dengan hal-hal yang suci & murni. Jadi, langkah awal yang terpenting adalah jauhilah keinginan duniawi, barulah setelah itu engkau dapat menerima divine love. Untuk itu, engkau perlu melaksanakan Thyaga (pengorbanan), sebab inilah yoga yang sebenarnya.

  • Divine Discourse, May 7, 2001



Saturday, November 15, 2008

Sai Inspires 15th November 2008 (What kind of deposit should we accumulate?)

Banks help to keep your money safe when you deposit it with them. They are happy to receive it and allow you to make use of it when in need. They can, however help you only during times of worldly distress. There is another bank, which receives deposits and maintains accounts strictly confidentially. Every little sum is entered and accounted for - deeds, thoughts, words, good, bad and indifferent. Like the bank that takes care of your worldly wealth, this one cares for your spiritual wealth. Open a deposit account here for your prosperity here and hereafter. That deposit, growing by your spiritual efforts, will give you joy and peace.

Pihak perbankan bisa membantu menyimpan uang anda secara aman apabila dititipkan kepada mereka. Tentu saja mereka senang untuk menerima uang anda dan akan mengizinkan anda untuk menggunakannya pada saat diperlukan. Akan tetapi, bantuan mereka hanya berada di level duniawi. Sementara itu, ada bank lainnya yang menerima deposit serta secara ketat menjaga kerahasiaan rekening anda. Setiap bentuk perbuatan, pikiran, ucapan – baik yang buruk maupun yang bajik – semuanya akan tercatat dengan detil. Seperti layaknya bank yang menjaga keamananan harta benda duniawimu, maka 'bank' yang ini menjaga kekayaan spiritualmu. Bukalah rekening tersebut demi untuk kesejahteraanmu saat sekarang dan di masa yang akan datang. Tabunganmu – dalam bentuk usaha spiritual – akan memberikan kebahagiaan dan kedamaian bagimu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Pg. 211


Friday, November 14, 2008

Sai Inspires 14th November 2008 ( What can we do today to our speech so that we can spread joy and love among all? )

Cultivate a sweet temper and sweet speech, which is its natural consequence. Speak without anger or spite, without any artificiality or formality, straight from the heart. Then, you will spread joy and love among all. If you cannot afford expensive clothes or the various frills of finery that you crave, do not get angry or wild. Be bold enough to resist the temptation of yielding to the pressure of the crowd. Remember that nourishing the good qualities and character is as important as nourishing the body.

Jagalah amarah dan ucapanmu agar senantiasa penuh dengan kelembutan dan sopan santun, sebab memang itulah sifat alamiahmu. Berbicaralah tanpa adanya unsur kemarahan, tidak perlu terlalu formal maupun dibuat-buat, yang terpenting adalah langsung dari hati nuranimu. Dengan demikian, engkau akan berbagi kebahagiaan dan cinta-kasih dengan semuanya. Apabila engkau tidak sanggup untuk memakai busana yang mahal ataupun perhiasan, janganlah engkau menjadi marah. Tetaplah tegar agar terhindar dari desakan khayalak ramai. Ingatlah selalu bahwa menjaga kualitas diri dan karakter positif sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh jasmani.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 24, Sep 12 1963.

Thursday, November 13, 2008

Sai Inspires 13th November 2008 ( What is Swami's guidance to us on how we should handle brickbats or criticisms laid on us?)

The family life that you lead is a good training ground. It is the Sadhana Kshetra (Field of Spiritual Practice). When you are found fault with, do not fly into a rage. Examine your own conduct and discover the faults in yourself. Self-Examination is the first step to Self-Improvement and peace. Do not exaggerate the faults of others, but give them a wide margin and see them as small. Exaggerate yours - see them big and strive to remove them fast. Take all your faultfinders as your friends and well-wishers, for they give you warning signals in a timely manner.

Kehidupan berumah-tangga merupakan medan latihan spiritual yang bagus. Ia disebut sebagai Sadhana Kshetra (lapangan untuk pelaksanaan praktek spiritual). Ketika ada pihak yang menunjukkan kesalahanmu, janganlah engkau menjadi marah. Cobalah engkau analisa perilaku/perbuatanmu agar engkau dapat menemukan kesalahan/kekurangan yang ada di dalam dirimu sendiri. Self-examination (introspeksi diri) adalah langkah awal untuk menuju kepada Self-improvement dan kedamaian. Engkau tidak perlu terlalu membesar-besarkan kesalahan orang lain, berikanlah kelonggaran terhadapnya dan lihatlah kesalahan itu sebagai bentuk kelalaian/kesalahan yang kecil sekali. Sebaliknya, besar-besarkanlah kesalahan yang engkau perbuat dan sekaligus berusahalah untuk menyingkirkannya secepat mungkin. Orang-orang yang menunjukkan kesalahanmu merupakan sahabatmu, sebab mereka telah memberikan tanda peringatan bagimu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 24, Sep 12, 1963.

Wednesday, November 12, 2008

Sai Inspires 12th November 2008 (What do we have to do to be away from all worries in our life?)

The Divinity in everyone prompts them to stick to the truth and moral values. Some hear even its whisperings; others listen only when it protests loudly. There are others who are deaf to this prompting, and a few are determined not to hear. Some may ascend a plane, others may travel by car or board a bus. Believe me, all have to be guided by it, sooner or later. All must reach their destination some day or other. Do your part sincerely. You only have to listen and obey to be saved.

Divinity yang ada di dalam dirimu akan senantiasa mendesakmu untuk mengikuti jalan kebenaran serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan. Ada sebagian orang yang perhatian terhadap bisikan perintah-Nya; sebagian lagi hanya mendengar setelah Ia memrotes keras. Tetapi ada pula orang yang bahkan tuli sama sekali terhadap arahan-arahan-Nya, dan terakhir, sebagian manusia bertekad untuk tidak mendengar sama sekali. Beberapa orang lebih suka berpergian dengan naik pesawat terbang, yang lainnya lebih memilih perjalanan dengan mobil atau menumpang bis. Namun percayalah, bahwa cepat atau lambat, setiap orang haruslah dituntun oleh-Nya. Semuanya kelak harus sampai ke tempat tujuannya. Lakukanlah porsi tugasmu sebaik-baiknya. Yang perlu engkau lakukan - agar selamat - hanyalah mendengar dan mematuhi.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, 1963

Tuesday, November 11, 2008

Sai Inspires 11th November 2008 (What can one experience when they surrender to the Lord?)

You must become the Divine Flute in His hands. Let the breath of your beloved Lord pass through you, making delightful music that melts the hearts. Surrender yourself to Him, become hollow - egoless and desireless. Then, He Himself will come and pick you up caressingly, and apply you, the Flute, to His Lips and blow His sweet breath through you. Allow Him to play whatever song He likes. The Lord is pure Love. He has no hatred in Him.

Jadilah seruling Ilahi di tangan-Nya. Biarkanlah nafas Tuhan tersalurkan melalui dirimu sehingga menghasilkan alunan musik indah yang menyenangkan hati semuanya. Pasrahkanlah dirimu kepada-Nya, lepaskanlah ke-ego-an serta keinginan-keinginanmu. Dengan demikian, maka Ia akan memilihmu serta menjadikanmu sebagai seruling-Nya. Biarkanlah Ia melantunkan irama yang disukai-Nya. Tuhan adalah cinta-kasih murni. Tidak ada unsur kebencian di dalam diri-Nya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 21, 6-Sep-1963

Monday, November 10, 2008

Sai Inspires 10th November 2008 ( How can we pass the test of life and escape all the attractions of the world?)

One's life is meaningful only because he can use it to see God. The goal of life is the final merging in the sea, God. You should not fill life with the world. That will make it a vanity fair, an insanity fair. Listen to all such things that will draw you towards the principle of Godhead; then, think it over in the silence, make it a part of your consciousness. This process of manana (reflection) makes you a human being. This is the test of life for every human being.

Kehidupan ini memperoleh maknanya apabila engkau menggunakannya untuk melihat Tuhan. Tujuan kehidupan ini adalah untuk menyatu dalam samudera yang maha luas, yaitu keilahian (Divinity)! Janganlah engkau mengisi kehidupanmu dengan hal-hal yang berbau duniawi. Sebab jikalau itu yang engkau lakukan, maka hidupmu akan menjelma menjadi bagaikan pasar malam yang hiruk-pikuk! Dengarkanlah hal-hal yang akan memancingmu untuk semakin dekat dengan prinsip-prinsip ke-Tuhan-an; lakukanlan perenungan dan jadikanlah prinsip itu sebagai bagian dari kesadaranmu. Proses manana (refleksi/perenungan) ini akan menjadikanmu sebagai manusia sejati. Inilah batu ujian bagi kehidupan setiap umat manusia.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 21, 6-Sep-1963.

Sunday, November 9, 2008

Sai Inspires 9th November 2008 (What is the importance of repeating the Name of God as a spiritual discipline? How can we continue to do this penance?

Enter from now on into a discipline of Naamasmarana, the incessant remembrance of the Lord, through the Name of the Lord. It does not need any special time or extra allotment of time, it can be done always, in the waking state, whether you are bathing or eating, walking or sitting. All the hours now spend in gossip, in watching sports or films, or in hollow conversations can be best used for silent contemplation of the Name and the Form, and splendour of the Lord.

Mulailah dari sekarang untuk berdisiplin dalam praktek Naamasmarana, yaitu pengulangan nama-nama Tuhan secara terus-menerus. Untuk menjalankan disiplin ini tidaklah diperlukan waktu yang khusus sebab ia bisa dilaksanakan kapan saja, baik dalam keadaan terjaga, sedang mandi atau makan, berjalan ataupun duduk. Waktu yang selama ini dimanfaatkan untuk bergosip-gosipan, menonton pertandingan olah-raga ataupun film maupun dalam percakapan ngalor-ngidul – sekarang bisa digunakan untuk berkontemplasi terhadap nama dan rupa serta kemuliaan Tuhan.



  • Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 14, May 1963.



Saturday, November 8, 2008

Sai Inspires 8th November 2008 ( How can we easily understand the mystery of good and the evil co-existing in the world? What is the purpose? )

Both good and evil have the right to exist. The evil has to be used for the purpose for which it is suited. The skin of the orange is not sweet. But it helps to protect the sweetness within. The bitter green skin of the unripe orange protects the fruits during the ripening period. The skin too gradually takes on some of the sweetness and flavor of the ripening orange. So too, evil has to be slowly transformed into good by the subtle influence of association.



Kebajikan dan negativitas – kedua-duanya memiliki hak yang sama untuk eksis. Aspek yang jahat haruslah diberdaya-gunakan dalam misi/maksud yang memang merupakan bagiannya. Kulit buah jeruk tidaklah manis, namun ia berfungsi untuk melindungi sari manis yang terdapat di dalamnya. Kulit hijau nan pahit pada buah jeruk yang belum matang berperan sebagai pelindung buah tersebut selama proses pematangannya. Lambat-laun kulit itupun akan menyerap sejumlah rasa manis serta aroma dari buah tersebut. Nah, demikianlah, kejahatan secara perlahan-lahan juga perlu ditransformasikan menjadi kebajikan melalui pengaruh pergaulan dengan yang saleh.

  • Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 17, 2-Aug-1963



Friday, November 7, 2008

Sai Inspires 7th November 2008 ( Solution to realize the Oneness in every being, in every atom we see around us, every single day)

Ajnaana (ignorance) can be removed by acknowledging the universality of God and the merging of your individuality in the Universal. First practise the attitude of "Nenu Neevadu" ("I am yours") . Let the wave in your heart discover and acknowledge that it belongs to the sea. This first step is not as easy as it seems. The wave takes a long time to recognize that it is the vast sea beneath which gives its existence. Its ego is so powerful that it will not permit it to be so humble, as to bend before the sea. But hold on to this thought like the kitten clings to its mother, moving plaintively for succor and sustenance, and all trace of ego will be removed. This step finally leads one to realize that there is no duality, all is one!

Ajnaana (kebodohan batin) hanya bisa disingkirkan dengan cara mengenali universalitas Tuhan serta melalui persekutuan (penyatuan) individualitasmu dengan Yang Maha Esa. Sebagai langkah awal, praktekkanlah attitude (sikap) "Nenu Neevadu" ("Aku adalah milik-Mu"). Biarkanlah riak gelombang yang ada di dalam hatimu menemukan serta menyadari bahwa ia adalah milik sang samudera. Memang langkah pertama ini mungkin tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagi riak gelombang untuk menyadari bahwa dasar eksistensinya bergantung pada sang samudera. Rasa egonya begitu kuat sehingga membuatnya susah untuk bersikap rendah hati dan hormat. Namun walaupun begitu, janganlah engkau lepas dari pemikiran seperti itu, bagaikan anak kucing yang berpegang erat kepada induknya untuk mencari perlindungan dan asupan makanan, kelak semua jejak-jejak sang ego akan terlucuti. Akhirnya engkau akan dituntun dalam mencapai kesadaran bahwa semuanya hanya satu adanya, tiada dualitas!

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 23, 8-Sep-1963

Thursday, November 6, 2008

Sai Inspires 6th November 2008 ( How can we become tough and focus ourselves on the spiritual path?)

The education that does not confer modesty and wisdom (Vinaya and Viveka) is a sheer waste of precious time. Whatever else you learn or do not learn, equip yourself with the strength that is necessary to be virtuous. Resist the temptation and the lures of the objective world. Wisdom is, not the cleverness that is given inordinate value today, but the capacity to see things in their proper proportion. One must also have the attitude of reverence to the past, and also to the elders who are the repository of spiritual wisdom and experience that one must acquire. To make life sweeter, deny yourself of many desires and you will find that you have become tough enough to bear both good fortune and bad.

Apabila pendidikan tidak mampu menghasilkan kemampuan pengendalian diri serta kebijaksanaan (Vinaya dan Viveka), maka pendidikan seperti itu adalah sia-sia belaka. Dalam keadaan bagaimanapun juga, bekalilah dirimu dengan kekuatan yang diperlukan agar dapat memupuk sikap-sikap yang luhur/terpuji. Jauhilah dirimu dari daya magnet dunia obyektif. Yang dimaksud dengan kebijaksanaan bukanlah hanya sekedar kepintaran belaka, melainkan ia diartikan sebagai kemampuan untuk melihat segala sesuatu sesuai dengan proporsinya yang layak. Hormatilah nilai-nilai sejarah dan juga terhadap para orang-tua - sumber kebijaksaan spiritual dan pengalaman berharga lainnya. Agar kehidupanmu menjadi lebih bermakna, kendalikanlah dirimu dari segala bentuk keinginan sehingga dengan demikian, engkau akan melihat dirimu menjadi lebih tangguh dalam menghadapi pasang-surut kehidupan ini.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 18, 12-8-63

Wednesday, November 5, 2008

Sai Inspires 5th November 2008 ( How do we make the most of our inner vices?)

Anger and hatred can be used to ward off the evil that stalks the spiritual aspirant. Be angry at the things that hamper you. Hate the habits that brutalize you. Cultivate the supreme knowledge (Jnaana) and visualize the Lord in all beings, things and activities. That will make your human birth worthwhile.

Kemarahan dan kebencian dapat diberdaya-gunakan untuk mengusir kejahatan yang selama ini menghambat perjalananmu sebagai aspiran spiritual. Kerahkanlah amarahmu terhadap hal-hal yang selalu menghalangimu (dalam hal perbuatan bajik). Bencilah kebiasaan-kebiasaan yang memperlakukanmu secara brutal. Kembangkanlah kebijaksanaan (Jnaana) dan visualisasikanlah Tuhan di dalam diri setiap mahluk, obyek dan kegiatan. Dengan demikian, kelahiranmu sebagai manusia akan memperoleh manfaatnya yang sebenarnya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 23, Sep-8-63

Tuesday, November 4, 2008

Sai Inspires 4th November 2008 ( How can we convert our misfortunes and miseries into opportunities to get nearer and dearer to the Lord?)

Welcome all the blows of fate, all the misfortunes and miseries, as gold welcomes the crucible, the hammer and the anvil, in order to get shaped into a jewel, or as the sugarcane welcomes the chopper, the crusher, the boiler, the pan, the sprayer and the dryer, so that its sweetness may be preserved and used as sugar by all. Chosen devotees never demur when disasters fall thick upon them. They will be happy and remember the Lord, and cling to Him. The Lord too, rushes to the help the devotee faster than the devotee can get to Him. If you take one step towards Him, He takes a hundred towards you. He will be more than a mother, foster you from within you and save you.

Bersiaplah untuk menerima serangkaian cobaan, kemalangan dan ketidak-nyamanan; seperti halnya bongkahan emas yang tidak mengeluh bilamana dimasukkan ke dalam crucible (untuk dilumerkan), kemudian dipukul agar dapat dibentuk menjadi perhiasan atau pada perumpamaan lainnya: seperti batang tebu yang rela untuk dipotong, dihancurkan, dimasak dan seterusnya, agar dapat menghasilkan manisan yang kelak dapat digunakan sebagai gula oleh semuanya. Para bhakta yang terpilih tidak akan pernah berkeluh-kesah ketika mereka menghadapi penderitaan. Mereka akan senantiasa senang dan ingat kepada Tuhan serta berpegang-teguh kepada-Nya. Demikian pula, Tuhan akan bergegas menolong bhakta-bhakta seperti ini, bahkan pertolongannya akan diberikan sebelum bhakta itu memintanya. Ketahuilah bahwa apabila engkau mengambil satu langkah menuju kepadaNya, maka Beliau akan mengambil seratus langkah mendekatimu. Beliau akan mengasihimu melebihi kasih seorang ibu, Ia akan melindungi dan menyelamatkanmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 23, 8-Sep-63

Monday, November 3, 2008

Sai Inspires 2nd November 2008 (How can we sanctify our every routine activity?)

Even when you are engaged in your daily chores, you can convert them into worship of God. While you are sweeping the floor, you can deem it as clearing your heart of all impurities. All work should be done with a pure heart filled with devotion, just as cooking must be done in a clean vessel. Whatever good you may do without a genuine feeling of love is of no use. It is love in a pure heart that transforms work into worship.

Di tengah-tengah kesibukanmu sehari-hari, engkau tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Misalnya, ketika engkau sedang menyapu lantai, maka ketika itu engkau bisa beranggapan bahwa seolah-olah engkau sedang membersihkan hatimu dari kekotoran batin. Apapun juga pekerjaan yang sedang engkau lakukan, maka laksanakanlah dengan hati yang murni dan disertai oleh bhakti, seperti halnya ketika memasak, engkau perlu memastikan bahwa wajan yang engkau pergunakan betul-betul bersih. Apapun juga perbuatan bajik yang dilakukan tanpa adanya perasaan cinta-kasih adalah tak berguna sama sekali. Cinta-kasih di dalam hati yang murni akan mentransformasikan tugas/pekerjaanmu menjadi ibadah.

- Divine Discourse, April 11, 1994.


Sai Inspires 3rd November 2008 ( What kind of attitude should we develop so that we never have any adverse results of our actions?)

Selfless service is the ideal to be aimed at. If you fan a person out of love, when you stop, he cannot blame you; but when the paid servant stops fanning, the master takes him to task. In the first case, the act is done in the selfless way, with no aim to seek gain. The desire for gain is like poison fangs; when they are pulled out, the snake of karma is rendered harmless.

Pelayanan tanpa-pamrih (selfless service) adalah idealisme yang harus engkau upayakan untuk tercapai. Apabila engkau mengipasi (menyejukkan) seseorang dengan penuh cinta-kasih, dan ketika engkau berhenti; maka orang tersebut tidak akan bisa menyalahkanmu. Namun lain halnya apabila seorang pelayan (yang digaji) dan apabila ia tidak melakukan tugasnya itu, maka sang tuan berhak untuk mengambil tindakan terhadapnya. Nah, dalam perumpamaan yang pertama tadi, terlihat bahwa perbuatan dilakukan secara selfless, yaitu tanpa adanya harapan untuk memperoleh sesuatu. Keinginan untuk mendapatkan pamrih adalah bagaikan racun ular berbisa; apabila racun itu dicopot dari giginya, maka ular (yang merupakan representasi karma) menjadi tidak berbahaya lagi.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 3, Page 68.

Saturday, November 1, 2008

Sai Inspires 1st November 2008 (What is that that we must cultivate to experience happiness that is lasting?)

What is it that men should acquire today? It is the broadening of the heart so that it may be filled with all-embracing love. Only then the sense of spiritual oneness of all mankind can be experienced. Out of that sense of unity will be born the love of God. This love will generate in the heart pure bliss that is boundless, indescribable and everlasting. For all forms of bliss, love is the source. A heart without love is like a barren land. Foster love in your hearts and redeem your lives. Whatever your scholarship or wealth, they are valueless without love. Without devotion all other accomplishments are of no avail for realising God. Men aspire for liberation. True liberation means freedom from desires.


Manusia perlu berupaya untuk mengisi hatinya dengan cinta-kasih yang berlimpah. Sebab hanya dengan demikian, semangat persatuan spiritual antar umat manusia akan dapat tercapai. Dari semangat persatuan itu, maka akan terlahir cinta-kasih Ilahiah. Cinta-kasih Divine ini akan menghasilkan pure bliss (kebahagiaan) yang langgeng dan abadi. Cinta-kasih adalah sumber dari segala bentuk kebahagiaan. Tanpa cinta-kasih, hatimu bagaikan tanah yang tandus. Peliharalah cinta-kasih di dalam hatimu dan sucikanlah kehidupanmu. Apapun juga gelar kesarjanaan atau kekayaanmu, semuanya tak ada artinya bila tanpa cinta-kasih. Tanpa adanya devotion (bhakti), maka semua hasil pencapaianmu menjadi tak ada nilainya (dalam upayamu untuk merealisasikan Tuhan). Manusia beraspirasi untuk mencapai pembebasan (moksha), namun ketahuilah bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan true liberation (pembebasan sejati) adalah kebebasan dari jeratan segala bentuk keinginan (duniawi).


- Divine Discourse, Dec 25, 1994.