Monday, April 7, 2008

Sai Inspires 7th April 2008 ( How can we raise ourselves spiritually?)

Only your actions are yours. Today there is no harmony between deeds and your words. Your writings have no relation to your real experience. Hence, you are unable to experience real bliss. It is better to act than to speak. Speech is easy; practice is difficult. There is real sadhana (spiritual progress) only when you practice what you profess. There must be complete harmony between thought, word and deed. The ancients proclaimed this supreme quality as Thrikarana Suddhi (triple harmony and purity). Where there is divergence between thought, word and deed, the ancient scriptures declare that it is evil. The triple harmony is the mark of high souled beings.

Hanya perbuatanmu sajalah yang merupakan milikmu. Dewasa ini telah terjadi disharmoni antara perbuatan dan ucapan-ucapanmu. Tulisan-tulisanmu sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan pengalamanmu yang sebenarnya. Itulah sebabnya, engkau tidak bisa merasakan bliss yang sejati. Adalah jauh lebih baik bilamana engkau bertindak daripada hanya sekedar berbicara saja. Speech (ucapan-ucapan) jauh lebih mudah dibandingkan dengan praktek. Kemajuan sadhana hanya akan bisa tercapai bila engkau mempraktekkan hal-hal yang telah engkau nyatakan. Antara pikiran, ucapan dan perbuatan haruslah terdapat keharmonisan utuh. Para leluhur kita memproklamirkan kualitas mulia ini sebagai Thrikarana Suddhi (trinitas harmoni dan purity). Kitab-kitab kuno memberi label 'evil' (jahat) bilamana terjadi penyimpangan antara pikiran, ucapan dan perbuatan. Trinitas harmoni merupakan identitas jiwa yang nan luhur.

- Divine Discourse, February 13, 1997.

Sunday, April 6, 2008

Sai Inspires 6th April 2008 ( How carefully should we treat our present?)

It requires all the strength one can collect to carry a load up-hill. The gear, the accelerator, has both to operate to haul a car up a steep. The Guru who taught you cannot do anything to haul it; he can only guide. The control of the senses, changing the mode of life, the habits of thought, has to be done by you. The senses say, "Why struggle? Eat, drink and be merry, while you can," but, the Guru says, "Death lands on you without notice; overcome its fear now, before he calls. Now is the true friend; yesterday has deceived you and gone; tomorrow is a doubtful visitor. Today is the fastest friend; hold fast to it."

Untuk menarik beban dalam perjalanan menanjak ke atas bukit, maka diperlukan pengerahan tenaga yang semaksimal mungkin. Semua gigi-gigi roda dan mesin harus bekerja keras untuk menaikkan mobil di atas jalan yang curam. Guru yang mengajarimu tidak bisa berbuat apa-apa untuk membawamu ke atas; beliau hanya bisa menjadi seorang penunjuk jalan. Pengendalian panca indera, merubah gaya hidup dan kebiasaan berpikiran - semuanya itu haruslah dilakukan oleh dirimu sendiri. Panca indera mungkin akan menghasutmu, "Mengapa engkau bersusah-payah? Makanlah, minumlah dan bergembiralah selagi engkau masih bisa," akan tetapi Guru akan berkata yang sebaliknya, "Kematian akan menjemputmu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu; atasilah rasa takut itu sekarang juga sebelum Dewa Yama (dewa kematian) mengetuk pintumu. Saat sekarang ini adalah sahabat yang sejati; sebab hari kemarin sudah mengelabuimu dan sirna; sedangkan hari esok masih merupakan pengunjung yang belum pasti. Hari ini adalah sahabat yang paling cepat (berlalu); oleh sebab itu berpeganglah secara erat terhadapnya."

- Divine Discourse, February 6, 1963.

Sai Inspires 5th April 2008 ( How can we control our mind?)

Assign to your mind the task of serving the Lord and it will grow tame. You do not hand over to the goldsmith an ornament that is beautiful, only one that is broken and needs repairs or perhaps has gone out of fashion. So, too, give the Lord your mind. It certainly needs repair, if not complete reconstruction.

Tugaskanlah mind-mu untuk melakukan tugas pelayanan kepada Tuhan, maka dengan demikian, ia akan menjadi jinak. Sebagai contoh, engkau tentunya tidak menyerahkan perhiasanmu yang masih bagus kepada tukang emas bukan? Hanya perhiasan yang sudah rusak dan perlu perbaikan atau yang sudah ketinggalan zaman sajalah yang diberikan kepadanya. Nah, demikian pula, berikanlah kepada Tuhan mind yang memang sudah saatnya diperbaiki atau direkonstruski ulang secara total.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 3, Pg. 10.

Friday, April 4, 2008

Sai Inspires 4th April 2008 ( How can we truly raise our standard of living?)

The educational system must be based on the four principles of Truth, Righteousness, Peace and Love. But, this has not happened. Therefore, we find it burdened with problems. It is full of conflict and confusion. Humility, detachment, discrimination, eagerness to serve others, reverence, renunciation - such virtues are absent among the educated. No one is prepared to give up; every one is anxious to grab. A garland can be made only when we have flowers, thread and needle. A system of education needs intelligence (flowers), devotion (thread) and the spirit of renunciation and service (needle) to become beneficial. Raising the standard of living must also mean raising ethical, moral and spiritual standards. Then only can education lead to progress in human values and harmony in social life.

Sistem pendidikan haruslah didasari oleh empat prinsip utama, yakni: Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian dan Cinta-kasih. Akan tetapi sayangnya, hal itu tidaklah terjadi dewasa ini. Itulah sebabnya, kita melihat bahwa sistem pendidikan di zaman sekarang terbebani oleh banyak persoalan yang penuh dengan konflik dan kebingungan. Nilai-nilai seperti kerendahan hati, ketidak-melekatan, kemampuan membedakan antara yang benar dan salah, keinginan untuk melayani, sikap hormat - semuanya itu telah hilang dari sitem pendidikan kita. Tak ada seorangpun yang siap untuk melepaskan (harta keduniawian); yang justru terjadi adalah orang-orang menjadi semakin serakah. Sebuah kalungan bunga hanya bisa terjadi jikalau kita mempunyai bunga, benang dan jarum. Sistem pendidikan saat ini membutuhkan intelligence (kepintaran) sebagai bunganya, devotion (bhakti) sebagai benang dan semangat pelepasan dan pelayanan sebagai jarumnya - semuanya itu diperlukan agar pendidikan betul-betul membuahkan manfaatnya. Meningkatkan derajat kehidupan juga membutuhkan peningkatan standar etika, moral dan spiritual. Hanya dengan demikianlah, maka pendidikan akan menghasilkan kemajuan dalam nilai-nilai kemanusiaan dan keharmonisan dalam kehidupan sosial.

- Divine Discourse, March 8, 1981.

Thursday, April 3, 2008

Sai Inspires 3rd April 2008 (our primary duties and the way to realise the Divine)

God can be known only by experience and not by experiments. Saadhana is needed for this purpose. People who are engaged in exploring space do not make the slightest effort to explore the Divine within them. Of what use are experiments aimed at exploring space, while there is no genuine cultivation of human qualities, and the practice of such basic virtues as showing reverence for the mother, the father and the preceptor? Every educated person should engage himself or herself in selfless service to society, with humility and a pure heart; one should live up to the motto - "Help ever - hurt never."

Tuhan hanya bisa dikenali melalui pengalaman dan bukan berdasarkan hasil coba-coba (eksperimen). Untuk itu, dibutuhkan Saadhana. Mereka yang getol untuk melakukan eksplorasi ruang angkasa sama sekali tidak berminat untuk menyelidiki Divine yang terdapat di dalam dirinya sendiri. Apalah gunanya bereksperimen serta bereksplorasi ke ruang angkasa, bilamana dirimu tidak melakukan upaya tulus untuk memupuk nilai-nilai kemanusiaan serta mempraktekkan kualitas-kualitas luhur seperti: menghormati ibu, bapak dan guru? Setiap orang yang terdidik seharusnya melibatkan dirinya dalam praktek pelayanan tanpa pamrih terhadap masyarakat, dengan didasari oleh kerendahan dan kemurnian hati. Jadikanlah motto "Help ever, Hurt never" sebagai pedoman hidupmu.

- Divine Discourse, June 5, 1994.

Wednesday, April 2, 2008

Sai Inspires 2nd April 2008 ( What is real love and how can we practise it in our daily lives?)

The Prema thathva (Love Principle) is within you. What you are practicing now as love is not real love; it is only affection out of Anuraaga (attachment to the body). Real love is unchanging. The feeling of love to the Divine is real devotion emanating from the heart...You should do this with purity of heart. The greatest sadhana (spiritual practice) is chanting the Name of the Lord and serving one’s fellow beings, who are the embodiments of the same Aathma (Self) that is in you.

Ketahuilah bahwa prinsip cinta-kasih (Prema Thathva) terdapat di dalam dirimu sendiri. Jenis cinta-kasih yang engkau praktekkan setiap hari bukanlah cinta-kasih yang sejati; ia hanyalah merupakan kasih-sayang yang dilandasi oleh Anuraaga (kemelekatan terhadap badan jasmani). Cinta-kasih sejati tidak mengalami perubahan. Perasaan penuh cinta-kasih terhadap Divine adalah jenis bhakti sejati yang bersumber dari dalam hati... Cintailah dengan hati yang murni. Sadhana tertinggi adalah melakukan chanting nama-nama Tuhan dan memberikan pelayanan kepada sesama manusia - yang tiada lain adalah perwujudan Aathma yang sama dengan dirimu.

- Divine Discourse, July 8, 1995.

Tuesday, April 1, 2008

Sai Inspires 1st April 2008 ( What is the only virtue we need to cultivate?)

Be lamps of love. That contains all. Then, there is no need for japam or thapas (meditation or chanting). Loving service of others (who are forms assumed by the Divine) will provide you the Grace of God. Therefore, resolve today to enshrine love in your heart, to cultivate it; make it Universal, free from selfish desire. Become Premaswaruupa, embodiments of Love.

Jadilah lentera cinta-kasih yang mengayomi semuanya. Dengan demikian, engkau tidak membutuhkan lagi japam maupun thapas (meditasi ataupun pelafalan nama-nama Tuhan). Pelayanan secara penuh cinta-kasih terhadap semuanya (yang merupakan perwujudan Tuhan) akan membekalimu dengan rahmat Ilahi. Oleh sebab itu, mulai hari ini, bulatkanlah tekadmu untuk menyalakan dan mempertahankan pelita cinta-kasih di dalam hatimu serta membebaskannya dari keinginan-keinginan congkak. Jadilah Premaswaruupa, perwujudan cinta-kasih.

- Divine Discourse, November 20, 1970.