Thursday, February 28, 2008

Sai Inspires 28th February 2008 (How can we attain and remain in supreme peace?)


It is at the mother's lap that the child learns the art of living; so also it is Prakriti (Nature) that teaches man how to succeed in the hard struggle and win Prashanti (supreme peace). Break the laws of Nature and she boxes you in the ear; obey her commands and listen to Her warnings and She will pass on to you your heritage of immortality. That is to say, have the Lord as your Guide and Guardian and adhere to the rules of dharma (righetousness). Let the dull-witted man hug his delusion that happiness and peace can be secured through slavery to the senses. Those who know that the world is a mixture of truth and falsehood, and therefore a big conundrum or mithya (false), will leave off the outer attractions and concentrate on the inner joy of attachment to God.

Seni-kehidupan dipelajari oleh sang anak di atas pangkuan ibunya; demikian pula, Prakriti (Nature/alam) mengajari manusia cara-cara untuk bertahan hidup sehingga dapat mencapai Prashanti (kedamaian tertinggi). Apabila engkau melanggar aturan-aturan alam, maka engkau akan menerima konsekuensinya yang setimpal; sebaliknya apabila engkau mentaati perintah dan mendengarkan nasehat-Nya, maka engkau akan menerima warisan yang memang menjadi milikmu, yaitu immortality (imortalitas/Atmic Reality). Dengan perkataan lain, jadikanlah Tuhan sebagai panutan dan pelindungmu dan patuhilah hukum-hukum dharma (kebajikan). Orang-orang yang bodoh (secara batiniah) masih beranggapan bahwa kebahagiaan dan kedamaian bisa tercapai melalui pemuasan nafsu-nafsu indirawi. Akan tetapi, bagi mereka yang sudah menyadari bahwa dunia ini adalah kombinasi antara kebenaran dan kepalsuan, maka mereka tidak akan tertarik lagi dengan daya-pikat eksternal dan akan lebih berkonsentrasi untuk mencapai keceriaan internal melalui persekutuan dengan Tuhan.

- Divine Discourse, March 6, 1962.

No comments: