Friday, November 30, 2007

Sai Inspires - 30th November 2007 (What should be our attitude while engaged in our duties?)

While engaged as you are in seva karma (service activity) as sadhana (spiritual practice), you encounter many hurdles. But, that is the nature of the world in which you act. It is a world of dual characteristics - good and bad, joy and grief, progress and regress, light and shade. Do not pay heed to these; do what comes to you as a duty, as well as you can, with prayer to God. The rest is in His Hands.

Ketika sedang aktif dalam melaksanakan seva karma (aktivitas pelayanan) sebagai bagian dari sadhana (praktek spiritual), engkau mungkin akan menghadapi banyak rintangan. Kondisi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia yang memiliki karakteristik dual – yaitu kebajikan dan kejahatan, kegembiraan dan kesedihan, kemajuan dan kemunduran, terang dan gelap. Engkau tidak perlu terlalu memperdulikan hal-hal tersebut; lakukanlah kewajibanmu dengan sebaik-baiknya disertai oleh doa kepada Tuhan. Selebihnya berada di tangan Dia.

- Divine Discourse, November 21, 1981.

Thursday, November 29, 2007

Sai Inspires - 29th November 2007 (the true path to eternal happiness)

Man is a bundle of bones clothed in muscle and fitted with communication nerves. As a base of this gross body, he has a subtle body too. It has its own hunger and thirst and life cannot be happy unless these too are fulfilled - the hunger to return to the Source, a thirst for the nectar that confers immortality. In the search for something to allay this hunger and this thirst, man meets with countless obstacles, for, he does not know the road and is easily misled by his own senses which profess to show him the road. It is only when some disaster or distress overpowers him that he becomes aware of the true path. The true path is the path that reveals the Aathma (self) within.

Manusia adalah sekumpulan tulang-belulang yang dibungkusi oleh otot-otot serta terpasang oleh jaringan komunikasi melalui urat-syaraf. Sebagai dasar dari badan jasmani ini, manusia masih memiliki badan halusnya yang memiliki rasa lapar dan hausnya tersendiri. Kehidupan ini tidak akan mencapai kebahagiaan selama rasa lapar dan haus tersebut belum terpenuhi, yakni rasa lapar untuk kembali bersatu kepada sumbernya (Tuhan) serta rasa haus untuk mencicipi nectar yang akan memberikan keabadian hidup (immortality). Dalam usahanya untuk memuaskan rasa lapar dan haus itu, manusia berhadapan dengan banyak rintangan-rintangan, sebab dia tidak tahu arah jalan yang benar dan sebaliknya dia malah disesatkan oleh panca-inderanya sendiri yang mengaku-ngaku sebagai penuntun perjalanan itu. Manusia baru akan menyadari arah perjalanan yang benar setelah ia mengalami kemalangan ataupun penderitaan. Arah perjalanan yang benar ditandai oleh jalan atau rute yang bakal mengungkapkan kebenaran Aatma (spirit/diri sejati) di dalam diri kita masing-masing.

- Divine Discourse, March 30, 1979.

Wednesday, November 28, 2007

Sai Inspires - 28th November 2007 (Can beauty confer on us the joy we aspire for?)


Man cannot derive joy merely from things that are beautiful or from individuals who are beautiful. Man derives joy from the objects he loves and not from other things. It is the love that lends beauty to the object. Hence joy is equated with beauty and the sweetness of honey. Anyone who seeks joy should not go after things of beauty. The fountain-source of joy is within himself. To bring forth that joy man should cultivate the inward vision.

Manusia tidak bisa mendapatkan joy (kesenangan/keceriaan) sekedar dari barang-barang ataupun individu yang tampak cantik. Manusia memetik joy dari obyek-obyek yang dicintainya dan bukan dari obyek lainnya. Cinta-kasih membuat obyek tersebut menjadi indah. Oleh sebab itu, joy sering dipersamakan dengan kecantikan dan rasa manisnya madu. Siapapun juga yang menginginkan joy hendaknya tidak mengejar barang-barang kecantikan (eksternal). Sumber utama joy ada di dalam diri kita masing-masing. Untuk dapat mengeluarkannya, maka kita harus memupuk inward vision (pandangan yang ditujukan ke dalam diri kita sendiri).

- Divine Discourse, June 24, 1989.



Sai Inspires - 27th November 2007 (What is our real nature and destiny?)


Man is Sathyam, Shivam and Sundharam (Truth, Goodness and Beauty). That is why he is drawn by the true, the beautiful and the good. He hates being labeled a liar or an ugly person or a bad character! Man has to go out of his way, take special pains, to tread the path of falsehood; it is more difficult for him to sustain a lie than support the truth. So, man is turning back on his destiny when he revels in falsehood, ugliness and wickedness...Man is bound to God, by the same destiny. He can get sound and sweet sleep only in the lap of God. Separated from Him, he can only wail.

Manusia adalah Sathyam, Shivam dan Sundharam (Kebenaran, Kebajikan dan Keindahan). Itulah sebabnya ia tertarik kepada unsur-unsur kebenaran, keindahan dan kebajikan. Dia merasa benci jikalau disebut sebagai pembohong ataupun orang jelek atau yang memiliki karakter buruk! Adalah jauh lebih sulit untuk mempertahankan kebohongan daripada kebenaran. Apabila seseorang hidup dalam kebohongan dan kejahatan, maka itu berarti bahwa ia sedang menutupi nasib(baik)nya sendiri... Manusia terikat kepada Tuhan. Ia hanya bisa tertidur lelap dan nyenyak apabila berada di pangkuan-Nya. Jikalau ia terpisah dari Tuhan, maka ratap-tangis tidak akan jauh darinya.

- Divine Discourse, March 1st, 1968.



Sai Inspires - 26th November 2007 (What is the single most important facet that we must comprehend about this creation?)


Doubts are raised whether God exists or not. Those who affirm that God exists and those who deny are equally incompetent to say anything about God if they know nothing about the nature of God... God is Omnipresent. There is no need to search for Him anywhere. Everything that we see is a manifestation of God. Wherever we are, there is God. There can be no greater folly than to deny the existence of God when the whole cosmos bears witness to His handiwork. Everything in creation must be viewed as a manifestation of God. Only with this basic faith can one develop one's human personality.

Banyak pihak yang meragukan tentang eksistensi Tuhan. Baik bagi mereka yang percaya maupun tidak percaya – kedua-duanya sebenarnya sama-sama tidak berkompeten untuk mengatakan tentang hal tersebut, sebab toh mereka tidak tahu-menahu tentang nature of God (sifat alamiah Sang Divine).... Tuhan maha omnipresent. Engkaun tidak perlu terlalu repot mencari Beliau. Segala sesuatu yang kita lihat ini adalah manifestasi-Nya. Dimanapun kita berada, maka di situ Tuhan juga eksis. Sungguh bodoh sekali bila ada yang menyangkal eksistensi-Nya padahal seluruh alam semesta ini sudah merupakan bukti nyata sebagai hasil kreasi-Nya. Segala sesuatu di alam ciptaan ini merupakan manifestasi Tuhan. Dengan berbekal keyakinan dasar ini, barulah engkau bisa mengembangkan human personality (sifat kemanusiaan)-mu.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Sai Inspires - 25th November 2007 (if we cultivate virtue, we need to foster no other.)


Of all the virtues, love is the foremost. If love is fostered, all other qualifies flow from it. In every form of sadhana (spiritual practice), love has the first place. Love is the supreme mark of humanness. Love is God. Live in Love. Start the day with Love. Fill the day with Love. End the day with Love. You have to engage yourselves in Seva, eschewing every trace of Ahamkara (ego). Our degradation is the result of forgetting God. When we remember God, our life will be filled with peace and happiness.

Dari seluruh nilai-nilai luhur, maka cinta-kasih merupakan nilai luhur yang paling penting. Jikalau kita memelihara cinta-kasih, maka semua kualitas lainnya akan mengalir dengan sendirinya. Di dalam setiap bentuk sadhana (praktek spiritual), cinta-kasih mendapatkan prioritas pertama. Cinta-kasih adalah ciri utama kemanusiaan. Cinta-kasih adalah Tuhan, hiduplah dalam cinta-kasih. Mulailah harimu dengan cinta-kasih, isilah dengan cinta-kasih dan akhirilah dengan cinta-kasih juga. Berpartisipasilah dalam kegiatan Seva, sembari terus mengikis habis jejak-jejak Ahamkara (ego). Kemerosotan moral di tengah-tengah masyarakat dewasa ini adalah merupakan buah-akibat dilupakannya Tuhan. Apabila kita senantiasa ingat kepada-Nya, maka kehidupan kita akan menjadi damai dan bahagia.

- Divine Discourse, March 23, 1989.

Saturday, November 24, 2007

Sai Inspires - 24th November 2007 (How can we create the Society of our dreams?)



All men are kith and kin, one family, one aspiration, one attempt at one acquisition. They are all equally Divine; all form the Universal Body of the One God. All are heirs to the Aanandha (bliss) that this awareness can give. Of course, society does not happen when people gather by chance, or get together with no common goal of good. The many-faceted skills and intelligences that are contributed by the many must flow pure and clear, untarnished by egoistic desires along the channel of the spirit; then, they will feed the roots of truth and goodness; they will ensure peace, for, all ideas, of high and low will disappear. This is the criterion for a stable, strong and sweet society; not, mere numbers. Be conscious of the God in each and in all; then, inner equality will impress each so indelibly that the awareness will stay undisturbed. Peace will reign in each and all..

Manusia adalah bagaikan sanak-saudara satu sama lainnya, anggota satu keluarga yang memiliki satu aspirasi dan yang bersama-sama berupaya untuk mencapai satu hal. Mereka semuanya memiliki sifat Divinity dan bersama-sama membentuk Badan Universal dari Satu aspek ke-Tuhan-an. Masing-masing mempunyai hak yang sama dalam mewarisi Aanandha (Bliss) yang dapat diberikan oleh kesadaran (awareness). Memang society tidak serta-merta terbentuk dengan hanya berdasarkan adanya perkumpulan beberapa orang secara kebetulan dan tanpa adanya tujuan bersama yang jelas. Keaneka-ragaman ketrampilan dan kepintaran yang dikontribusikan oleh beberapa orang haruslah mengalir secara murni dan jernih serta tidak ternoda oleh keinginan-keinginan egoistik sepanjang perjalanan Spirit (jiwa). Bila hal itu tercapai, maka ia akan semakin memperkaya akar-akar kebenaran dan kebajikan; sehingga kelak akan membuahkan kedamaian (batin). Inilah kriteria-kriteria suatu society yang mantap, kuat dan indah. Society tidaklah semata-mata ditentukan oleh jumlah kuantitasnya saja. Sadarilah aspek ke-Tuhan-an yang ada di dalam diri setiap insan, sedemikian rupa sehingga kesadaran tersebut tidak akan terganggu (stabil) demi untuk tercapainya kedamaian batin bagi semuanya.

- Divine Discourse, October 1971.